Hari ini, di sini, ku tuliskan sebuah memori dan mimpi. Malam bersama rembulan, siang bersama mentari. Bersamanya ku lewati hari. Resah, gelisah, takut. Semua bercampur aduk. Ingin berhenti sejenak tapi ku takut ini adalah nikmat. Bersama sang merah berani telah ku lewati, meskipun selalu terhenti. Naik turun beralun-alun. Degup hati beradu. Degup hati meredup. Lantas kian redup hingga samar-samar ku rasa.
Tangan, kaki, pikiran, mata, telinga, lelah dalam kesendirian. Inginku pergi. Pergi sekali lagi. Bersama mimpi, gantungkan mimpi di atas angan-angan, di atas awan-awan, di atas bintang-bintang. Mencoba meraihnya tanpa terhalang, tanpa terhadang oleh degup hati yang samar. Inginku hidupkan kembali hati yang kian sekarat, kan ku bawa pergi, ku bawa tuk diobati. Jauh-jauh sekali, hingga tak ada yang mendistraksi, hingga hatiku pulih. Pulih dari janji-janji yang tak tertepati. Inginku gapai lagi hati yang suci.
Rindu, rinduku duhai hati yang suci. Entah kapan ku temukan lagi dirimu yang bisa ku bawa mati. Ku berdoa penuh harap untuk hati ini. Hati yang terkotori oleh gempuran layar-layar biru, hijau, kuning. Ya, semua warna. Warna yang menyilaukan, yang menyajikan fatamorgana, membuatku terlena, dan lupa akan mimpi dan hati.
Sekali lagi aku ingin menulis, aku ingin menulis. Lagi dan lagi sampai aku ingin berhenti, tapi aku tak tahu kapan kan berhenti. Aku ingin diam. Diam. Aku adalah aku. Aku yang terjatuh ke dalam kubangan lumpur, memberi bekas yang nyatanya dapat ku basuh dengan se ember air, tapi masih ku biarkan mengendap. Mengendap hingga kakiku terasa berat. Berat untuk melangkah, membawa lumpur-lumpur yang tlah berubah diterpa udara.
Antara cukup sendiri atau cukup bersama. Antara ingin sendiri atau ingin bersama. Aku tak tahu mana yang harus dituju. Hatiku sulit untuk tidak menengok. Menengok mereka lagi. Aku ingin bersama dan tak tahan dengan kesendirian, tapi entah mengapa dalam kebersamaan sulit untuk ku tetapkan pikiran teguhkan langkah menapaki anak tangga untuk ku gapai puncak. Padahal puncak hanyalah maya untuk sebuah kebahagiaan. Aku ingin bahagia dengan caraku sendiri.
Dunia terlalu kejam karena melihat kebahagiaan dari puncak. Mungkin saja bukan dunia yang kejam. Dunia tak pernah kejam. Kaca ajaib, tolong berhenti. Berhenti. Aku ingin kembali. Aku ingin kembali menjalani hari tanpa dirimu. Menjalani hari tanpa tahu apapun itu. Aku ingin diriku, peluk diriku, senyumkan diriku, dan berkata pada diriku "Hai, ada aku dirimu yang selalu ada bersamamu, tiada yang lain yang sesetia aku. Hanya diriku. Cukup diriku. Bahagialah diriku. Berikan senyummu. Hadapi harimu. Bentangkan sayapmu. Lihatlah sang mentari pagi yang selalu menyemangatimu. Lihatlah sang bulan yang selalu memberimu ketenangan. Peluk erat dirimu. Iya, dirimu. Dirimu seorang. Lihatlah dirimu. Betapa indah ciptaan-Nya. Kamu bersama hatimu. Hatimu yang batu. Terlihat batu padahal air yang membeku, yang sangat rapuh dan mudah melebur. LOVE ME. LOVE YOU."
~Dengan sepenuh hati (12/12/20)~.